Desa adat ini menjadi andalan wisata di Bali yang digemari banyak traveler. Desa ini dipilih karena warganya masih mengelola tradisi Desa Penglipuran, budaya, dan adat dengan baik, dan menjadi contoh desa yang peduli lingkungan.
Salah satunya adalah tradisi yang menjunjung tinggi alam sehingga digelari sebagai Desa Penglipuran desa terbersih. Ada juga punya tradisi untuk menghargai perempuan.
Selain menghargai alam dan menghargai perempuan, ini tradisi-tradisi unik Desa Penglipuran yang harus Anda ketahui.
Desa ini punya acara adat khas, namanya Ngerebeg atau Ngelawang. Ngerebeg ini sebenarnya punya makna khusus, yakni menjaga keselamatan warganya dengan mengusir energi negatif dan minta perlindungan dari Tuhan supaya terhindar dari bencana.
Selain itu, juga untuk membuat krama senang. Tradisi Ngerebeg ini diadakan tiga kali setahun, yaitu Hari Raya Galungan dan Buda Kliwon Pahang. Saat perayaan, mereka membawa barong sakral dari Pura Penataran Desa ke rumah-rumah warga.
Tiap kali ada warga yang meninggal, mereka akan dikubur di pemakaman desa. Meskipun sebagian besar penduduknya menganut agama Hindu.
Namun, Upacara Ngaben (pembakaran jenazah) hanya dilakukan untuk mengirim roh orang yang sudah meninggal ke Sang Pencipta. Setiap ada warga desa yang meninggal, satu ekor sapi akan dikorbankan sebagai pengorbanan suci.
Cara pemakaman juga punya keunikan tersendiri, di mana jenazah pria akan dikubur dalam posisi tengkurap, sementara jenazah wanita ditempatkan dengan posisi tengadah.
Ada keunikan Desa Penglipuran tentang hukuman bagi yang suka mencuri. Kalau ketahuan, hukumannya harus memberi sesajen berupa lima ekor ayam, dengan warna bulu yang beda dari ayam-ayam lainnya, di empat pura nenek moyang mereka.
Dengan cara ini, semua orang di desa akan tahu siapa yang mencuri dan membuatnya merasa sangat malu.
Kenduri adalah tradisi ciri khas Desa Penglipuran di mana warga desa menyiapkan makanan untuk pesta setelah mengeruk sumur. Pesta diadakan untuk segala hal yang menyangkut kesejahteraan, seperti pesta untuk tanaman dan hewan.
Jadi sebenarnya mereka minta ke Yang Maha Esa, semoga apa yang ada di dunia ini bisa membantu manusia dan membuat hidup kita makmur.
Salah satu ritual keagamaan besar yang diadakan setiap tahun adalah Ngusaba, yang menjadi sambutan Hari Raya Nyepi. Ritual ini digelar tiap 15 hari oleh warga setempat. Pura Penataran akan ramai oleh masyarakat yang lagi beribadah.
Ngusaba sebagai salah satu sejarah Desa Penglipuran terus dijalani sebagai bentuk penghormatan bagi para tetua adat yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Penglipuran Village Festival menjadi acara tahunan yang digelar di akhir tahun. Di sini, mereka menghadirkan seni dan budaya Bali yang mengagumkan. Akan ada parade pakaian adat Bali, Barong Ngelawang, parade seni budaya, dan lomba-lomba seru.
Aturan unik lain di desa ini bernama Karang Memadu. "Karang" artinya tempat, "Memadu" artinya poligami atau poliandri. Lokasinya ada di ujung Desa Penglipuran. Konsep Karang Memadu dibangun karena warga tidak boleh poligami atau poliandri.
Kalau ada yang melanggar aturan ini, mereka akan dikirim ke Karang Memadu dan kena sanksi lain yang ditentukan lewat rapat adat. Untungnya, sampai sekarang belum ada warga yang coba melanggar aturan itu.
Magibung biasanya digelar saat acara pernikahan, atau waktu ada kegiatan adat seperti upacara di pura atau acara besar desa untuk mengundang tetangga yang punya ikatan adat, yang disebut bebanuan.
Di acara pernikahan, peserta magibung terbatas cuma untuk peduluan dan prajuru desa, jumlahnya kira-kira 20 orang. Magibung ini diadakan di bale saka enam. Yang membuat beda, dalam acara magibung, kedua pengantin malah yang menjadi pelayan acara.
Bagi Anda yang mau merasakan serunya tinggal di desa dan menyaksikan langsung tradisi Desa Penglipuran, langsung saja mampir ke sana. Anda bisa mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan warga setempat dan kehidupan sehari-hari di sana. Dan pastinya, untuk mempermudah menyusuri lokasi-lokasi wisata lain di Bali, ada baiknya sewa mobil lepas kunci di Putri Bali Rental dengan biaya yang lebih murah.
Sejarah desa Penglipuran dipercaya sudah ada sejak pemerintahan I Dewa Gede Putu Tangkeban III. Masyarakat percaya bahwa desa ini berasal dari Desa Bayung Gede, yang mana di masyarakat yang tinggal dulunya sangat ahli dalam agama dan pertahanan.
Selain itu, desa Penglipuran menjadi desa terbersih, bahkan tercatat menjadi desa terbersih seluruh dunia. Oleh karena itu, desa Penglipuran menjadi salah satu destinasi wisata. Karena terdapat ciri tersendiri.
Terdapat sejumlah sejarah desa Penglipuran yang belum banyak diketahui masyarakat di Indonesia. Adapun sejarah ini yang menjadikan ciri khas desa Penglipuran sehingga berbeda dari yang lain. Karena desa ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Bangil.
Desa ini berdiri sekitar 700 tahun lalu, di mana pada zaman tersebut masih dikuasai oleh I Dewa Gede Putu Tangkeban III. Nama Penglipuran ini berasal dari kata pengling dan pura, adapun pengling memiliki artian sebagai pengingat dan pura adalah tanah leluhur.
Masyarakat meyakini bahwa desa sesepuh desa ini berasal dari Desa Bayung Gede. Di mana orang-orangnya terkenal dengan ahli agama, adat dan pertahanan. Para leluhur tersebut kerap berjalan dari Bayung Gede ke Kintamani dan beristirahat di daerah bernama Kubu.
Oleh karena itu, desa Penglipuran dulunya dikenal Desa Kubu Bayung. Kemudian orang yang berada di Kubu Bayung akhirnya membentuk sebuah desa sendiri dan mereka membangun tempat suci sendiri bernama Pura Kahyangan Tiga.
Seperti yang diketahui dari sejarah desa Penglipuran, bahwa desa ini terletak di Bali tepatnya di Bangli. Hanya berjarak 60 km dari Bandara Ngurah Rai, wisatawan bisa menuju desa tersebut. Lokasi desa Penglipuran yang strategis sehingga tidak bingung kendaraan umum.
Di balik sejarahnya yang menarik wisatawan, terdapat sejumlah keunikan lain yang menjadi daya tarik dari desa Penglipuran. Seperti yang diketahui bahwa Bali memiliki lokasi wisata yang sangat banyak dan menarik. Salah satunya adalah desa Penglipuran.
Keunikan desa Penglipuran yang paling banyak diketahui bahkan satu dunia mengakui, yakni kebersihannya. Desa Penglipuran menjadi desa terbersih di dunia, bahkan telah mendapatkan penghargaan di bidang lingkungan dan pariwisata.
Desa ini telah mendapatkan sejumlah penghargaan, seperti Kalpataru, Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA). Selain itu, desa nan cantik ini masuk dalam kategori Sustainable Destination Top 100 menurut Green Destination Foundation loh! Keren bukan?
Terdapat ciri khas tersendiri di Desa Penglipuran, yakni tata ruang Tri Mandala. Di desa tersebut masih kental dengan nilai leluhurnya. Adapun konsep Tri Mandala, yakni membagi desa tersebut kedalam 3 wilayah.
Tiga wilayah desa tersebut, yakni Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala. Pada daerah Utama Mandala adalah wilayah suci untuk dewa dan peribadatan. Madya Mandala merupakan tempat tinggal penduduk. Sedangkan Nista Mandala merupakan tempat pemakaman.
Desa Penglipuran juga dikenal dengan luas hutan nya yang mencapai 112 hektare. Dan di desa tersebut terdapat 50 hektare lahan pertanian, hutan bambu 45 hektar serta tempat suci 4 hektar. Selain lahan yang disebutkan merupakan fasilitas umum.
Dengan hal ini, hutan dan lahan pertanian lebih luas daripada lahan penduduk. Dan, hal ini merupakan keunikan tersendiri bagi pengunjung untuk melihat keasrian lingkungan desa Penglipuran.
Demikian sejarah desa Penglipuran dan ciri khas yang menjadi daya tarik para wisatawan. Pengunjung dapat menikmati keasrian desa Penglipuran dan kekentalan adat di sana. Selain wisata, pengunjung dapat belajar kebudayaan di sana. Dan pastinya, untuk mempermudah menyusuri lokasi-lokasi wisata lain di Bali, ada baiknya sewa mobil lepas kunci di Putri Bali Rental dengan biaya yang lebih murah.
Pura Besakih adalah salah satu tempat suci di Bali yang paling terkenal. Keunikan Pura Besakih menjadi salah satu alasan mengapa Pura ini dijadikan sebagai ‘Pusat’ agama Hindu Bali.
Pura Besakih dianggap paling suci di Bali dan sebagai pura utama dari enam pura penting di Bali. Sehingga, orang Bali akan mengunjungi Pura Besakih untuk melakukan upacara keagamaan dan pemujaan.
Terdapat beberapa keunikan-keunikan Pura Besakih sebagai tempat suci utama di Bali. Adapun keunikannya, yaitu sebagai berikut:
Pura Besakih adalah pura paling suci dan terbesar di Bali. Dalam Pura Besakih terdiri atas 23 pura berbeda yang memiliki keunikan dan keindahan arsitektur berbeda pada masing-masing puranya.
Pura Besakih berlokasi sangat strategis, yaitu terletak di lereng Gunung Agung. Gunung Agung dianggap suci oleh masyarakat Bali. Letaknya yang berada di lereng Gunung Agung ini memberikan panorama alam yang sangat indah serta memukau bagi para pengunjungnya.
Keunikan Pura Besakih lainnya terletak pada bagian Arsitekturnya, yaitu memiliki gaya arsitektur Bali Kuno yang dipengaruhi oleh faktor agama Hindu-Budha dan berasal dari India.
Gaya arsitektur pada Pura ini dikenal dengan nama “arsitektur Hindu Bali” serta bisa dilihat dari struktur bangunan pura dan ornamen-ornamen yang digunakan.
Pura Besakih memiliki keistimewaan yaitu dijadikan sebagai pusat kegiatan keagamaan di Bali. Pada hari-hari tertentu, Pura Besakih dijadikan sebagai pusat upacara besar, seperti upacara Galungan dan Kuningan.
Pura ini memiliki sejarah dan makna religius yang kuat bagi masyarakat Bali. Pura Besakih dianggap sebagai tempat paling suci dan dianggap sebagai pusat agama Hindu di Bali.
Dengan adanya keunikan-keunikan Pura Besakih tersebut, Pura ini menjadi salah satu tempat paling dihormati di Bali, baik bagi masyarakat lokal maupun bagi wisatawan mancanegara.
Untuk Tiket masuk ke Pura Besakih biasanya pengunjung akan dikenakan biaya sebesar 40.000/orang.
Tetapi, harga tiket Pura Besakih bisa berubah sewaktu-waktu bergantung pada kebijakan pihak Pura atau kebijakan pemerintah setempat.
Jika pengunjung ingin mengikuti tur atau mendapatkan panduan dari pemandu setempat/lokal, maka akan dikenakan biaya tambahan. Namun, saat ingin mengakses kompleks pura utama, pengunjung dikenakan harga tiket masuk standar.
Pura Besakih berlokasi di Desa Besakih, Kec. Rendang, Kota Karangasem, Bali, Indonesia. Arah untuk menuju ke Pura Besakih ada beberapa rute yang bisa ditempuh, bergantung pada lokasi awal pengunjung.
Jika Anda berada di Denpasar atau Kuta, maka bisa mengambil rute di Jalan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra – Jalan Raya Pantai Timur.
Lalu setelah melewati kota Semarapura, Anda akan sampai di persimpangan menuju arah Pura Besakih. Setelah sampai di sini, maka nantinya akan ada petunjuk arah menuju Pura Besakih.
Selain itu, Anda juga bisa menuju Pura Besakih dari kota Bangli/Karangasem dengan mengikuti rute Desa Besakih.
Untuk menuju rute ke Pura Besakih, pengunjung bisa menggunakan transportasi umum, seperti bus/minibus. Jika menaiki transportasi umum, maka akan memerlukan transit beberapa kali dan waktu tempuh lebih lama daripada menggunakan kendaraan pribadi.
Agar tidak memakan waktu cukup lama, sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi, seperti mobil atau motor. Sebab, selain memakan waktu yang lama, transportasi umum di sekitar Pura Besakih relatif terbatas.
Dengan kendaraan pribadi, maka akan lebih cepat sampai ke pura tujuan dan melakukan ibadah serta melihat keunikan Pura Besakih secara langsung. Nah, bagi Anda yang mungkin sedang wisata ke Bali dan butuh jasa sewa mobil untuk jalan-jalan ke Pura Besakih, tentunya bisa sekali menggunakan jasa sewa mobil di Putri Bali Rental.
Pura Besakih adalah salah satu Pura yang terletak di Provinsi Bali. Nama Besakih diambil dari bahasa sansekerta ‘Wasuki’ dan menurut arti bahasa kuno nya adalah selamat. Nama ini didasari mitologi Naga Basuki, yaitu penyeimbang Gunung Mandara. Ada urutan sembahyang di Pura Besakih yang tidak bisa dilakukan sembarangan
Pura Besakih dijadikan sebagai tempat sembahyang umat Hindu di Desa Besakih. Adapun seputar Pura Besakih akan dibahas pada artikel ini.
Pura Besakih adalah sebuah bangunan yang dijadikan sebagai lambang pemersatu kehidupan masyarakat Bali yang menganut agama Hindu. Keberadaan pura ini tidak semata-mata hanya sebagai tempat ibadah yang besar saja, tapi juga berkaitan dengan latar belakang bangunannya.
Pada Pura Besakih terdiri atas 1 Pura yang menjadi pusat, yaitu Pura Penataran Agung Besakih, serta terdapat 18 Pura pendamping lain, salah satunya adalah Pura Basukian.
Penataan bangunan akan disesuaikan dengan arah mata angin guna agar struktur bangunannya bisa mewakili alam sebagai simbol keseimbangan.
Masing-masing arah mata angin dikenal dengan Mandala dan dewa penguasa yang disebut "Dewa Catur Lokapala". Dalam hal ini, terdapat lima struktur bangunan yang didasarkan pada arah mata angin.
Adapun struktur bangunan Pura Besakih berdasarkan konsep arah mata angin, antara lain:
Adapun untuk Urutan Sembahyang di Pura Besakih secara umum, yaitu sebagai berikut:
Langkah pertama yang dilakukan adalah membersihkan badan jasmani, yaitu dengan cara mandi secara bersih. Namun jika tidak memungkinkan, Anda bisa mencuci muka, kaki dan tangan serta berkumur.
Saat sembahyang, gunakan pakaian yang sopan, seperti halnya memakai baju sembahyang yang bersih. Jangan lupa untuk memakai udeng, Kamben, Sentang. Jika tidak memungkinkan, Anda diperbolehkan untuk menggunakan pakaian bebas asal sopan.
Untuk persiapannya, siapkan Bunga dan dupa sebelum Anda masuk ke Pura Besakih. Biasanya terdapat penjual bunga dan dupa sepanjang jalan menuju pura Besakih.
Setelah masuk pura Besakih, langsung ambil sikap duduk. Untuk sikap duduk ini, Anda bisa ambil sikap silasana, dan bajrasana dan sesuaikan dengan kondisi serta kenyamanan Anda.
Setelah duduk, Anda akan mulai ke tahap sembahyang di Pura Besakih, yaitu:
Setelah selesai mengikuti Urutan Sembahyang di Pura Besakih, jangan lupa untuk membawa sisa-sisa bunga dan dupa untuk dibuang ke tempat sampah agar pura tetap bersih.
Pura Besakih berada di Desa Besakih, Kec.Rendang, Kab.Karangasem, Prov.Bali. Adapun jarak tempuh menuju ke Pura ini sekitar 25 km ke arah utara.
Selama perjalanan menuju pura Besakih akan melewati panorama Bukit Jambul yang dijadikan sebagai objek wisata di Bali, khususnya sebagai daya tarik Kabupaten Karangasem. Untuk tiket masuk Pura Besakih, bagi wisatawan Mancanegara dikenakan harga Rp60.000/orang. Sedangkan untuk wisatawan domestik dikenakan harga Rp30.000/orang.
Kami siap melayani liburan anda di Bali, Sewa mobil di bali hanya di Putri Bali rental
Jika Anda berencana berlibur ke Danau Batur di Bali sebaiknya Anda membaca kisah legenda danau Batur berikut ini. Pasalnya selain penuh pesan moral, cerita rakyat Bali juga membantu Anda mengenal lokasi yang Anda kunjungi. Ini kisah singkatnya.
Cerita rakyat legenda Danau Batur bermula dari sepasang suami istri sederhana yang belum mempunyai anak. Mereka berdoa kepada Tuhani agar bisa memiliki anak. Doa mereka dijawab dengan lahirnya bayi lelaki yang lucu.
Namun, ia tumbuh secara luar biasa karena memiliki nafsu makannya luar biasa besar. Semakin hari ia tumbuh semakin besar, jatah makannya juga semakin banyak. Hal ini membuat orang tuanya kewalahan.
Karena ia tumbuh menjadi raksasa maka ia membutuhkan makanan berkali-kali lipat lebih banyak. Warga desa bekerja sama membantu memberi makan anak yang diberi nama Kebo Iwa tersebut. Kebo Iwa sendiri artinya paman kerbau.
Walaupun Kebo Iwa menghabiskan banyak makanan, tetapi ia memiliki sifat yang baik. Ia sangat rajin dalam membantu warga membangun rumah, pura maupun pekerjaan lainnya. Alhasil, warga merasa terbantu dengan kehadirannya.
Namun, Kebo Iwa juga memiliki sifat buruk yang membuat warga desa resah. Setiap kali lapar dan warga tidak menyediakan makanan maka ia akan marah. Parahnya, ia akan menghancurkan apapun yang ada di depannya. Alhasil, banyak bangunan hancur ketika ia marah.
Tidak ada masalah dengan memberi makan Kebo iwa ketika keadaan baik dan panen warga lancar. Namun, warga mulai merasa kuatir karena masa paceklik dan kekeringan yang melanda desa. Panen dan persediaan makanan pun mulai menipis.
Legenda di Indonesia mengenai asal usul danau Batur ini mulai memunculkan masalah serius ketika terjadi paceklik. Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan hasil panen warga menurun drastis. Persediaan makanan untuk warga desa dan keluarganya juga berkurang.
Mereka kuatir dan takut karena tidak mampu menyediakan makanan untuk Kebo Iwa. Ketakutan itu terbukti ketika suatu hari Kebo Iwa datang untuk meminta makanan. Tentu saja mereka tidak memiliki makanan untuk diberikan kepadanya karena jatah mereka dan keluarga pun menipis.
Kebo Iwa marah besar dan menghancurkan apa saja yang ia temui, termasuk pemukiman warga dan tempat ibadah. Ia bahkan memakan ternak peliharaan warga karena rasa lapar yang tak terhingga. Warga yang ketakutan lalu melarikan diri ke desa tetangga agar aman.
Mamun Kebo Iwa tetap mengejar mereka hingga ke desa tetangga tersebut. Alhasil, desa tersebut juga menjadi korban amukan si raksasa bernama Kebo iwa. Cerita rakyat Bali singkat ini menjadi seru karena warga geram dan marah terhadap perilaku Kebo iwa.
Warga yang geram mulai bersatu dan menyusun rencana untuk menyingkirkan sang raksasa. Mereka berupaya mengumpulkan makanan sebanyak mungkin sebagai umpan untuk menjebak Kebo Iwa. Mereka lalu meminta si raksasa untuk membantu membangun kembali bangunan yang sebelumnya dia rusak
Kebo Iwa langsung setuju karena mendapat iming-iming makanan. Warga lalu memintanya untuk membuat sumur yang besar untuk mereka. Ia menggali sangat dalam sehingga tanah galiannya menjadi gundukan yang sangat besar. Sementara itu warga mengumpulkan batu kapur sebanyak-banyaknya.
Ketika Kebo Iwa tertidur di lubang sumur buatannya karena kelelahan dan kekenyangan. Warga menimbunnya dengan batu kapur yang kemudian bercampur dengan air dari lubang tersebut. Kebo Iwa tenggelam di dalamnya namun air terus mengalir hingga membanjiri desa di sekitarnya.
Itulah legenda danau Batur singkat dimana genangan air tersebut menjadi Danau Batur. Sedangkan gundukan tanah hasil galian Kebo iwa menjadi Gunung Batur. Pesan moral dari cerita ini adalah kegigihan dan kerjasama bisa mengalahkan masalah besar yang sedang dihadapi.
Dari sosok Kebo iwa kita juga bisa belajar bahwa dibalik kekurangan dan sifat buruk seseorang, ia tetap memiliki sifat positif. Semoga kisah legenda danau Batur di atas dapat menginspirasi Anda. Untuk bisa mengunjungi tempat ini, Anda bisa menyewa mobil yang ada di bali. Harga sewa mobil di Bali pun bervariasi. Anda bisa memilihnya sesuai dengan budget yang dimiliki.
Antusias warga dan para wisatawan atas digelarnya festival Tanah Lot menjadikan para penyelenggara semakin giat untuk terus mengembangkan dan mengadakan festival untuk setiap tahunnya.
Festival tersebut terbuka untuk masyarakat bali dan umum termasuk para wisatawan. Karena dengan diadakannya festival tersebut, sama saja mengenalkan budaya Bali ke masyarakat dan para wisatawan lokal maupun asing. Inilah beberapa momen yang berkaitan dengan festival.
Biasanya pada pembukaan festival, jadwal acara yang diselenggarakan adalah Parade Gebogan. Parade ini memiliki nilai yang berkaitan langsung dengan art and food festival. Karena memperkenalkan berbagai hasil bumi yang disusun dengan kandungan nilai seni.
Beberapa hasil bumi sebagai simbol kekayaan alam disusun sedemikian rupa hingga menyerupai setengah tabung. Kemudian pada bagian atas di beri hiasan layaknya penari Bali lengkap dengan hiasan kepalanya. Sedangkan pada bagian bawah, diberi janur yang merumbai.
Food and culture festival di Tanah Lot ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Bali saja. Akan tetapi setiap pengunjung yang hadir diperbolehkan ikut serta seperti menari tarian Bali dan berbagai rangkaian acara lainnya.
Hal tersebut tentu mampu memberikan nilai tambah pada Budaya Bali. Dimana budaya Bali bisa diikuti oleh siapa saja. Sekaligus memperkenalkan budaya Bali di kancah internasional.
Bali merupakan wilayah yang sangat terkenal dengan kesenian dan adat istiadatnya yang kental. Masyarakat Bali selalu antusias untuk memperkenalkan seni daerah ke seluruh wisatawan. Penampilan art and culture Bali tentu menjadikan nilai seni di Bali makin dikenal.
Seperti halnya penampilan tari Topeng Barong. Tari tersebut tidak hanya sekedar kesenian tari saja. Akan tetapi terdapat makna tersendiri. Tarian tersebut berkaitan dengan tradisi Ngelawang dan juga penampilannya hampir sama dengan hewan Babi.
Bali merupakan daerah yang dikenal dengan keberagaman masakan nusantaranya. Masakan Bali dikenal dengan jenis masakan yang diolah menggunakan banyak rempah pilihan. Sehingga rasa masakannya sangat tajam tapi nikmat.
Pada saat festival, para chef akan menyuguhkan hidangan khusus yang menjadi kebanggaan masyarakat Bali. Hidangan tersebut dibuat sebanyak mungkin. Agar seluruh pengunjung bisa menikmati makanan khas Bali
Antusias pengunjung dalam menyambut makanan khas Bali ini memang patut di acungi jempol. Pada saat festival ini terselenggara, para pengunjung rela mengantri berjam-jam untuk dapat mencicipi makanan khas Bali yang disediakan.
Harga tiket masuk ke Tanah Lot bervariasi. Hal tersebut ditentukan oleh usia dan wisatawan yang berkunjung. Misalkan saja untuk wisatawan asing, dikenakan biaya 60 ribu untuk dewasa. Sedangkan untuk anak-anak sebesar 30 ribu.
Jika yang berkunjung adalah warga lokal, maka cukup membayar biaya sebesar 20 ribu saja untuk orang dewasa. Sedangkan untuk anak-anak, biaya yang dikenakan sebesar 15 ribu saja untuk setiap kunjungan. Harga yang cukup terjangkau untuk menikmati seni yang mahal.
Tanah Lot memang destinasi yang super lengkap. Mulai dari keberagaman budaya hingga makanannya. Anda bisa mengikuti berbagai kegiatan festival yang diselenggarakan di Tanah Lot. Tidak lupa untuk mencicipi hidangan yang disajikan pula.
Festival Tanah Lot merupakan ajang terbaik untuk memperkenalkan makanan dan budaya nusantara khas Bali kepada wisatawan. Hal tersebut merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Bali. Serta bisa mengangkat standar budaya warga Indonesia. Jadi sekarang ketika kamu ke Bali jangan lupa untuk mencari rental mobil di Bali melalui website Putri Bali Rental.